PKisah Pangururan
Desa adat & budaya Batak Toba di kawasan Pangururan

Menelusuri Rumah Bolon dan Kehidupan Adat Batak Toba di Desa-Desa Sekitar Pangururan

Rumah Bolon dan kehidupan adat Batak Toba masih hidup di desa-desa sekitar Pangururan, Samosir. Menelusuri arsitektur, marga, dan tradisi harian.

Menelusuri Rumah Bolon dan Kehidupan Adat Batak Toba di Desa-Desa Sekitar Pangururan

Inti Sari

  • Pangururan adalah ibu kota Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, sekaligus kecamatan dengan pusat pemerintahan di Kelurahan Pasar Pangururan.
  • Rumah Bolon adalah rumah adat Batak Toba berbentuk panggung dengan atap melengkung dan ukiran gorga di dinding kayunya.
  • Desa-desa di sekitar Pangururan masih mempertahankan rumah adat, tungku, dan ruang tamu adat untuk musyawarah marga.
  • Kehidupan adat Batak Toba terlihat dari sistem marga, partuturan, dan upacara seperti pernikahan serta kematian.
  • Akses ke Pangururan dari Medan melalui darat lewat Tele atau ferry dari Ajibata ke Tomok, lalu jalan darat ke Pangururan.

Rumah Bolon, Wajah Kayu yang Masih Berdiri

Pagi di Desa Situngkir, sekitar 15 menit berkendara dari Pasar Pangururan, cahaya masuk lewat celah dinding papan. Seorang pria tua duduk di bawah atap melengkung, mengunyah sirih, matanya mengawasi siapa saja yang lewat. Rumah itu bukan museum. Ia masih dipakai untuk musyawarah keluarga, tempat menyimpan beras, dan tidur bagi beberapa anggota marga.

Rumah Bolon Batak Toba punya ciri yang sulit dikelirukan. Bentuknya panggung, lantai kayu setinggi pinggang orang dewasa, ditopang tiang-tiang kayu bulat. Atapnya melengkung naik di kedua ujung, seperti perahu terbalik. Dindingnya papan kayu berukir gorga, motif geometris berwarna merah, hitam, dan putih dari bahan alami. Di depan, ada halaman terbuka yang dulu dipakai untuk pertemuan adat.

Di desa-desa sekitar Pangururan, beberapa Rumah Bolon masih terawat. Ada yang sudah diganti atap seng, ada yang masih beratap ijuk. Perbedaan ini bukan soal kemewahan, tetapi kemampuan keluarga mempertahankan bahan asli. Ijuk makin sulit didapat dan mahal. Seng lebih murah dan tahan lama, meski mengubah penampilan.

Yang penting, rumah ini bukan sekadar bangunan. Ia menyimpan ingatan marga. Di dalamnya ada tungku, ada ruang untuk tamu, ada tempat menyimpan padi. Fungsi-fungsi itu masih berjalan, terutama di desa yang jauh dari jalan utama.

Partuturan, Marga, dan Aturan yang Mengikat Percakapan

Di Pangururan dan desa sekitarnya, orang tidak langsung bertanya nama. Yang ditanya lebih dulu marga. Jawaban itu menentukan cara berbicara, siapa duduk di mana, siapa memanggil siapa dengan sebutan apa. Sistem ini disebut partuturan.

Bagi pendatang, partuturan bisa terasa rumit. Seorang pria bisa dipanggil amang oleh orang yang seusia anaknya, atau tunggane oleh yang lebih muda, tergantung marga dan garis keturunan. Kesalahan menyebut bisa dianggap tidak sopan, meski biasanya hanya ditegur halus.

Di desa-desa sekitar Pangururan, partuturan masih dipakai sehari-hari. Di pasar, di gereja, di acara adat. Marga seperti Situmorang, Sinaga, Nainggolan, Siregar, dan Simbolon punya sejarah panjang di kawasan ini. Setiap marga punya aturan sendiri soal pernikahan, warisan, dan tanah.

Upacara adat masih dijalankan. Pernikahan butuh musyawarah dua keluarga besar, bukan hanya dua orang. Kematian punya tahapan yang panjang, dari mangokal holi sampai acara adat setelahnya. Di beberapa desa, tradisi ini berjalan berdampingan dengan kehidupan gereja yang kuat. Tidak ada benturan. Keduanya dianggap bagian dari identitas yang sama.

Hidup dari Tanah dan Danau, Menjaga Adat di Tengah Perubahan

Pangururan berada di tepi Danau Toba, di sisi barat Pulau Samosir. Udara sejuk, tanah vulkanik, dan air danau yang jernih. Penduduk desa sekitar hidup dari bertani, beternak, dan mencari ikan. Ada yang menanam padi, jagung, kopi, dan sayur. Ada yang memelihara babi dan kerbau, hewan yang penting dalam upacara adat.

Ekonomi desa tidak besar, tetapi cukup. Hasil pertanian dijual ke Pasar Pangururan, yang menjadi pusat perdagangan kecamatan. Beberapa keluarga membuka homestay kecil untuk wisatawan yang lewat. Tarifnya relatif terjangkau, jauh lebih murah dari penginapan besar di kawasan wisata lain. Wisatawan yang datang biasanya ingin melihat rumah adat, makam raja, atau sekadar menikmati danau dari sisi yang lebih sunyi.

Perubahan tetap terasa. Anak muda banyak yang merantau ke Medan, Jakarta, atau luar negeri. Rumah Bolon yang ditinggal penghuni mulai lapuk. Kayunya dimakan usia, ukirannya memudar. Beberapa keluarga memilih membangun rumah beton di samping rumah lama, karena lebih murah dan mudah dirawat.

Namun adat tidak hilang. Setiap kali ada acara marga, keluarga yang merantau pulang. Mereka duduk lagi di bawah atap melengkung, mendengar nasihat orang tua, membagi tugas. Rumah Bolon tetap jadi pusat, meski penghuninya hanya beberapa orang. Di desa-desa sekitar Pangururan, kehidupan adat Batak Toba bukan pertunjukan untuk wisatawan. Ia berjalan pelan, seperti air danau di pagi hari.

Pertanyaan Umum

Di mana letak Pangururan?

Pangururan adalah kecamatan di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, dan menjadi ibu kota kabupaten. Pusat pemerintahan kecamatan berada di Kelurahan Pasar Pangururan.

Apa itu Rumah Bolon?

Rumah Bolon adalah rumah adat Batak Toba berbentuk panggung dengan atap melengkung dan dinding kayu berukir gorga. Di desa-desa sekitar Pangururan, beberapa rumah ini masih dipakai untuk musyawarah dan kegiatan keluarga.

Apakah adat Batak Toba masih dijalankan di Pangururan?

Ya. Sistem marga dan partuturan masih dipakai sehari-hari. Upacara pernikahan dan kematian tetap dijalankan dengan musyawarah keluarga besar, berdampingan dengan kehidupan gereja.

Bagaimana akses ke Pangururan?

Dari Medan, perjalanan darat bisa lewat Tele atau lewat Ajibata dengan ferry ke Tomok, lalu jalan darat ke Pangururan. Waktu tempuh bervariasi tergantung rute dan kondisi jalan.